Rabu, 04 September 2019

PROSPEK MENJAJIKAN MINYAK BAWANG MERAH.


PROSPEK MENJAJIKAN MINYAK BAWANG MERAH.

Selama ini, bawang merah lebih banyak dipasarkan dalam bentuk segar. Padahal, bawang merah bisa diolah menjadi berbagai produk olahan lain yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani, terlebih saat panen raya yang hampir selalu diikuti dengan jatuhnya harga.
Sebagian masyarakat hanya mengenal olahan bawang merah untuk dijadikan bawang goreng atau campuran acar. Lebih dari itu, komoditas yang telah merambah pasar ekspor ini ternyata bisa juga diolah menjadi produk pasta, bawang iris kering dan minyak bawang merah.


Mungkin, minyak bawang merah belum terlalu populer di Indonesia. Produk minyak bawang merah yang sekarang beredar di pasaran berasal dari China dan Thailand, sedangkan produk minyak bawang buatan lokal masih belum banyak di pasaran
Oleh karenanya, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) mulai mengembangkan produk pascapanen untuk komoditas bawang merah tersebut. Selain untuk kemudahan masyarakat perkotaan, minyak bawang merah juga dinilai menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan petani bawang merah dari sektor usaha pengolahan.


Kasubdit Pengolahan Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian, Dyah Ismayaningrum, juga menyebutkan bahwa pergeseran pola konsumsi masyarakat saat ini menuntut segalanya serba praktis dan instan dalam memasak. Sehingga, di sinilah prospek bisnis pasta dan minyak bawang merah dapat dikembangkan.
Saat ini, industri pengolahan pasta bawang merah baru berkembang di daerah Brebes, Solok dan Jakarta. Padahal sentra bawang merah sendiri sudah tersebar ke berbagai daerah di Indonesia mulai dari Aceh Tengah, Karo, Simalungun, Kerinci, Lampung Selatan, Bandung, Pantura Jawa Barat, Pantura Jawa Tengah, Nganjuk, Probolinggo, Sumenep, Pamekasan, Bangli, Enrekang, Bantaeng, Palu, Minahasa, Bima, Sumbawa Kupang, Manggarai, Belu, Maluku Tenggara hingga Sorong Papua Barat.

Minyak bawang merah sendiri merupakan minyak yang mengandung banyak senyawa flavour. Aroma dan rasanya seperti bawang merah meskipun berbentuk minyak. Jika menggunakan minyak ini untuk memasak, maka tidak perlu lagi menambahkan rempah bawang merah karena rasa bawang merah sudah ada pada minyak tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian, produk minyak bawang merah tersebut tahan disimpan hingga 6 sampai 12 bulan dan tidak membutuhkan tempat penyimpanan khusus.
Jika minyak bawang merah ini berhasil dikembangkan maka akan menjadi peluang baik untuk masyarakat di sekitar sentra bawang merah. Saat panen bawang melimpah, bisa terselamatkan dengan diolah menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Teknologinya sudah tersedia, bahan bakunya juga melimpah, peluang pasarnya juga terbuka lebar.

Di pasaran, harga jual minyak bawang merah produk impor sejenis berkisar Rp 58.000 per botol kaca ukuran 150 ml atau setara dengan Rp 386.000 per liter. Padahal jika dibuat sendiri, biaya bahan bakunya hanya sekitar Rp 85.000 per liter. Jadi keuntungannya bisa 3-4 kali lipat. Belum lagi keuntungan dari produk sampingan hasil pengolahan minyak, seperti ampas bawang bisa untuk bawang goreng, ini bisa untuk menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan.

● Bagaimana, menarik bukan? 
Apakah Anda tertarik untuk mencoba mengembangkannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Irigrasi Kabut, Inovasi di Bidang Pertanian

Setelah sebelumnya ditemukan adanya inovasi “Sistem Irigasi Tetes untuk Tanaman”, kini petani di Bantul, Yogyakarta berhasil membuat terobos...