Setelah sebelumnya ditemukan adanya inovasi “Sistem Irigasi Tetes untuk Tanaman”, kini petani di Bantul, Yogyakarta berhasil membuat terobosan baru untuk mengairi tanamannya dengan mengembangkan teknik irigasi kabut. Teknik pengairan lahan ini menggunakan metode layaknya kabut.
Inovasi tersebut muncul karena adanya keluhan masyarakat sekitar terkait lahan pasir di pesisir yang merupakan lahan marjinal yang sebenarnya memiliki potensi tinggi dalam pengembangan pertanian namun masih saja terkendala dalam hal pengairannya.
Oleh karenanya, untuk menyelesaikan tantangan kondisi tersebut para petani dituntut untuk lebih kreatif dan mampu menciptakan inovasi dalam mengembangkan sektor pertanian. Dan kemudian terciptalah irigasi kabut.
Irigasi kabut yaitu sistem pengairan tanaman dengan menggunakan air yang dipompa ke dalam pipa yang telah diberi titik lubang. Dari lubang kecil-kecil pada pipa tersebut akan memancar air ke atas yang kemudian menjadi seperti kabut sehingga dapat menyirami tanaman pertanian.
Inovasi pertanian ini bekerja dengan mekanisme pengaturan suhu. Metodenya adalah dengan menggunakan sebuah alat pengukur suhu dan kelembapan yang dipasang di lahan pertanian. Apabila alat pengukur suhu menunjukkan suhu dan kelembapan di atas rata-rata, maka otomatis pompa akan melakukan penyemprotan melalui selang yang telah diletakkan di sekitar tanaman.
Air yang disemprotkan tidak terlalu banyak, hanya berupa butiran lembut dari lubang-lubang halus di sepanjang selang, mirip seperti kabut. Fungsi penyemprotan tadi hanya untuk kembali melembabkan tanah dan udara di sekitar lahan pertanian.
Selain untuk pengairan, penggunaan irigasi ini juga mampu menekan pertumbuhan hama yang menyerang tanaman serta meminimalisir gulma yang muncul di lahan. Hal ini disebabkan karena pengaplikasian irigasi yang bersifat fleksibel yang memungkinkan untuk bisa dikombinasikan antara irigasi dengan penyemprotan pestisida di lahan.
Irigasi kabut ini lebih hemat jika dibandingkan dengan tipe irigasi lain. Apabila dihitung secara matematis, kemungkinan biaya yang dapat dihemat bisa mencapai separuh biaya awal tanpa irigasi ini. Biaya yang dapat dihemat yakni biaya penyiraman dan biaya tenaga kerja. Irigasi ini juga sangat ramah lingkungan, karena hampir tidak ditemukan dampak negatif pada penggunaannya.
Hingga saat ini, irigasi kabut masih diterapkan di daerah dengan jenis tanah berpasir dengan komoditas yang dibudidayakan adalah sayuran. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan, akan segera dilakukan pengembangan di daerah rentan kekeringan, dengan harapan dapat menjadi solusi ketersediaan air saat musim kemarau tiba.
Selain irigasi tetes dan kabut, Anda juga dapat mengenal lebih dalam lagi tentang irigasi pertanian. Berikut terdapat “Tipe Irigasi untuk Pertanian” lainnya yang bisa Anda jadikan sebagai referensi untuk irigasi.
Soboh Sawah
Selasa, 10 September 2019
Rabu, 04 September 2019
PROSPEK MENJAJIKAN MINYAK BAWANG MERAH.
PROSPEK MENJAJIKAN MINYAK BAWANG MERAH.
Selama ini, bawang merah lebih banyak dipasarkan dalam bentuk segar. Padahal, bawang merah bisa diolah menjadi berbagai produk olahan lain yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani, terlebih saat panen raya yang hampir selalu diikuti dengan jatuhnya harga.
Sebagian masyarakat hanya mengenal olahan bawang merah untuk dijadikan bawang goreng atau campuran acar. Lebih dari itu, komoditas yang telah merambah pasar ekspor ini ternyata bisa juga diolah menjadi produk pasta, bawang iris kering dan minyak bawang merah.
Mungkin, minyak bawang merah belum terlalu populer di Indonesia. Produk minyak bawang merah yang sekarang beredar di pasaran berasal dari China dan Thailand, sedangkan produk minyak bawang buatan lokal masih belum banyak di pasaran
Oleh karenanya, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) mulai mengembangkan produk pascapanen untuk komoditas bawang merah tersebut. Selain untuk kemudahan masyarakat perkotaan, minyak bawang merah juga dinilai menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan petani bawang merah dari sektor usaha pengolahan.
Kasubdit Pengolahan Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian, Dyah Ismayaningrum, juga menyebutkan bahwa pergeseran pola konsumsi masyarakat saat ini menuntut segalanya serba praktis dan instan dalam memasak. Sehingga, di sinilah prospek bisnis pasta dan minyak bawang merah dapat dikembangkan.
Saat ini, industri pengolahan pasta bawang merah baru berkembang di daerah Brebes, Solok dan Jakarta. Padahal sentra bawang merah sendiri sudah tersebar ke berbagai daerah di Indonesia mulai dari Aceh Tengah, Karo, Simalungun, Kerinci, Lampung Selatan, Bandung, Pantura Jawa Barat, Pantura Jawa Tengah, Nganjuk, Probolinggo, Sumenep, Pamekasan, Bangli, Enrekang, Bantaeng, Palu, Minahasa, Bima, Sumbawa Kupang, Manggarai, Belu, Maluku Tenggara hingga Sorong Papua Barat.
Minyak bawang merah sendiri merupakan minyak yang mengandung banyak senyawa flavour. Aroma dan rasanya seperti bawang merah meskipun berbentuk minyak. Jika menggunakan minyak ini untuk memasak, maka tidak perlu lagi menambahkan rempah bawang merah karena rasa bawang merah sudah ada pada minyak tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian, produk minyak bawang merah tersebut tahan disimpan hingga 6 sampai 12 bulan dan tidak membutuhkan tempat penyimpanan khusus.
Jika minyak bawang merah ini berhasil dikembangkan maka akan menjadi peluang baik untuk masyarakat di sekitar sentra bawang merah. Saat panen bawang melimpah, bisa terselamatkan dengan diolah menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Teknologinya sudah tersedia, bahan bakunya juga melimpah, peluang pasarnya juga terbuka lebar.
Di pasaran, harga jual minyak bawang merah produk impor sejenis berkisar Rp 58.000 per botol kaca ukuran 150 ml atau setara dengan Rp 386.000 per liter. Padahal jika dibuat sendiri, biaya bahan bakunya hanya sekitar Rp 85.000 per liter. Jadi keuntungannya bisa 3-4 kali lipat. Belum lagi keuntungan dari produk sampingan hasil pengolahan minyak, seperti ampas bawang bisa untuk bawang goreng, ini bisa untuk menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan.
● Bagaimana, menarik bukan?
Apakah Anda tertarik untuk mencoba mengembangkannya?
Langganan:
Postingan (Atom)
Irigrasi Kabut, Inovasi di Bidang Pertanian
Setelah sebelumnya ditemukan adanya inovasi “Sistem Irigasi Tetes untuk Tanaman”, kini petani di Bantul, Yogyakarta berhasil membuat terobos...







